Jumat, 09 Oktober 2015

Hutan Mati Gunung Papandayan Garut

Pengalaman mendaki Hutan Mati Gunung Papandayan Garut - Tiap-tiap pendaki yang singgah ke Tempat Wisata di Garut Gunung Papandayan di Garut bakal lihat panorama tidak umum, berbentuk sederetan pohon kering sisa erupsi di hutan mati. Panorama disini sangatlah unik, terasa seperti tengah ada di film fiksi.

Sebatang pohon kering pasti tak enak dilihat. Tetapi himpunan pohon kering di hutan mati sisa terserang erupsi Gunung Papandayan ini, malah tampak cantik. Memiliki bentuk tampak unik, kontras dengan panorama di sekelilingnya. Hutan mati Papandayan Garut yaitu lokasi hutan lebat yang terserang erupsi letusan Papandayan pada th. 2002 silam. Ada di sini seperti ada di lokasi yang asing, bukanlah seperti di Indonesia. Walau sebenarnya tempat ini di Garut. Di hutan mati Papandayan Garut, berdiri tegak pohon yang komplit batang serta dahannya berwarna hitam namun tidak ada daunnya ditambah gabungan warna tanah yang putih. Bila setelah hujan, ada genangan air yang menaikkan keindahan tempat ini. terlebih bila turun kabut, Indah luar umum.






Alhamdulillah 31 Juli 2015 – 2 Agustus 2015 kaki kecil ini kembali mengantarkan saya melihat kekuasaanNya. Terucap sukur atas nikmat sehatNya yang masih tetap Dia titipkan padaku. Sesudah pulang dari kantor selekasnya saya bergegas ke stasiun Cawang, tempat meet up kami, serta menuju pool bis Primajasa UKI menuju terminal guntur Garut. Papandayan, gunung yang populer ramah ini jadi maksud kami isi weekend.

Kami menumpangi bis paling akhir maksud garut jam 22. 30 dengan harga Rp. 52. 000. Jam 02. 30 kami telah tiba di terminal serta melanjutkkan perjalanan dengan elf hingga Cisurupan sebesar Rp, 20. 000. Hingga di Cisurupan kami berisitirahat untuk sarapan serta salat subuh, baru lalu naik pick up hingga kaki gunung Papandayan dengan tarif Rp. 20. 000/orang. Sepanjang perjalanan dari Cisurupan hingga kaki gunung Papandayan ini kami disuguhi dengan panorama alam yang luar umum dengan latar gunung Cikurai, bikin hati ini tergugah untuk menjejakkan kaki disana nantinya.






Seputar jam 09. 00 kami mulai trekking dari kaki gunung, tak lama trekking kami telah disuguhi panorama kawah papandayan dengan bau belerangnya yang cukup pekat. Kawah ini keluarkan asap serta nada belerang pada sebagian titik, tetapi cuma satu yang paling besar, yang lain lebih kecil serta menyebar mengelilingi titik yang paling besar.

Kami telah tiba di pondok salada yang disebut camping ground jam 12. 00, jadi sangatlah lumrah gunung papandayan ini dimaksud gunung yang bersahabat, lantaran cuma dengan trekking sepanjang 3 jam kami telah bisa nikmati keindahan kawah papandayan serta pondok salada yang telah ditumbuhi edelweis.






Kami mengambil keputusan untuk ngecamp di salada hingga keesokan hari. Walau papandayan ini termasuk bersahabat tak lalu bisa disepelekan, lantaran dinginnya cukup menusuk tulang, walau sebenarnya saya cuma bersentuhan dengan air waktu wudhu, tetapi berhasil bikin jari-jari tangan serta kaki seperti ingin kaku, mungkin saja lantaran sekarang ini musim kemarau hingga suhu alami penurunan mencolok. Bagaimanakah tak, sepanjang perjalanan pada awal mulanya cuaca demikian panas serta kontur tanah agak berpasir serta gersang.

Cerahnya malam itu di berhias bln. purnama serta bintang-bintang yang bertaburan di sekelilingnya. Saya memulainya dengan salat maghrib di alam terlepas, hal semacam ini yang lalu bikin saya rindu ‘berjalan’, memperluas tempat sujudku, mensyukuri semua keindahan yang sudah dihamparkanNya. Selepas isya kami menghangatkan tubuh di seputar api unggun. Ada yang menggelitik kami waktu seseorang rekan bercerita bila dia lihat ada yang menebang pohon dengan gergaji waktu dia menghimpun ranting-ranting pohon yang jatuh untuk api unggun. Tak tahu siapa pelakunya, orang-orang sekitarkah atau pendaki, tetapi demikian miris bila hal semacam ini selalu berlanjut tanpa ada penanggulangan, disuatu titik vegetasi disini bakal jadi punah.





Perjalanan kami teruskan seputar jam 08. 00 ke hutan mati serta tegal alun. Spot yang kami kunjungi pertama yakni hutan mati. Hutan mati ini berlangsung lantaran letusan vulkanik papandayan, yang lalu membunuh seluruhnya vegetasi yang dilewatinya. Disebabkan letusan itu yang tersisa disini cuma batang pohon yang kering serta gosong, kontur tanahnya berwarna putih, mungkin saja letusan itu memiliki kandungan kapur/belerang. Tetapi ada yang unik disini, walau kering batang-batang pohon itu terus berdiri kokoh serta memberi kesan sendiri, anggun serta sedikit magis.

Hutan mati ini lalu memberi saya satu pelajaran, bagaimanakah makna kehidupan bukan sekedar selesai pada kematian. Hutan mati ini tak sebenar-benarnya mati, ia terus berdiri kokoh memberi masa lalu. Semasa hidupnya dia berguna jadi teduh manusia dari sinar matahari, serta waktu mati dia tak lalu dan merta hilang, dia terus ada memberi kesan sendiri. Saya mengharapkan bisa seperti seperti hutan mati, berguna semasa hidup, serta tak betul-betul hilang waktu mati, meninggalkan masa lalu sendiri untuk beberapa orang terkasih.

Sesudah hutan mati kami menuju tegal alun yang disebut padang edelweis, banyak edelweis yang bermekaran terhampar di ruang yang cukup luas ini, bikin saya kerasan berlama-lama disana. Seputar jam 12. 00 kami telah kembali hingga di pondok salada, untuk memulihkan tenaga serta bersiap-siap kembali turun. Selepas ashar sesampainya di kaki gunung kami selekasnya beranjak pulang ke rumah semasing. Terimakasih Rabb sudah mengizinkan saya selalu jalan nikmati semua keindahan ciptaanMu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates